Guru Menginspirasi

Teacher is the heart of the school

Parenting

Sebuah cerita di sekolah

Sebagai orang tua kita pasti sayang kepada anak-anak kita. Seberapa besar sayang kita kepada anak kita? Hanya kita yang tahu.

Pertanyaannya, bagaimana menyampaikan bentuk sayang tersebut?

Ketika ada satu anak A tidak sengaja menyenggol dan menginjak anak B, lalu anak B marah dan karena masih dalam emosi tidak mau memaafkan. Sedangkan Anak A sudah meminta maaf karena memang tidak sengaja. Ketika itu ada anak C yang niatnya ingin melerai namun dianggap oleh anak B yang sedang emosi itu “berbeda”. Anak B merasa di dorong oleh anak C. Lalu anak B mengejar anak C.

Tiba-tiba orang tua anak B datang melihat kejadian itu dan langsung mengambil foto lalu menyebarkan di grup WA orang tua, menanyakan siapa anak-anak tersebut yang “memukul” anak B. jeng jeng….masalah satu belum selesai, sudah menambah masalah baru dengan menyebarkan foto tersebut di grup WA.

Sepertinya ini sudah menjadi budaya: Ketika melihat suatu kejadian, buka respon untuk menolong atau mendekat pada kejadian itu, tetapi malah mengambil foto/ video dulu. Semakin sedikit rasa bersimpati dan menolong atau memebrikan solusi bagi masalahnya. Seolah kita “diperbudak” oleh sosial media untuk terus mengupdate status kita yang tidak jelas.

Spontan orang tua anak B memanggil anak A dan C dan memarahinya. “kenapa harus langsung marah kepada anak-anak” tersebut.

Mendengar cerita di atas, saya merasa sedih. Betapa rasa sayang orang tua terhadap anaknya disampaikan dengan cara yang tidak bijak. Terkadang orang tua tidak mengajarkan anaknya untuk menyelesaikan masalah. Orang tua yang menyelesaikan masalah anaknya, akhirnya anak-anak sekarang tidak bisa menyelesaikan masalah. Cenderung teriak atau menyerah ketika berhadapan dengan masalah. Karena memang sejak kecil orang tua nya mengambil alih semua keputusan yang bisa dilakukan oleh anak. Anak tidak diberi kepercayaan untuk belajar menyelesaikan masalah mereka.

Ketika ada dua anak yang bertengkar, atau salah satu anak memukul anak lainnya. Pada hari itu permasalahan anak tersebut sudah bisa diselesaikan oleh sekolah dan anaknya pun sudah bisa bermain bersama lagi. Tetapi orang tua nya belum selesai. Orang tua anak yang di pukul merasa belum puas/ tidak rela anaknya di pukul. Akhirnya anaknya minta dilindungi atau tidak mau bertemu dengan anak yang memukul.

Betapa sekolah menjadi tempat dilemma antara benar dan salah. Sekolah bisa salah dan juga benar. Namun kenyataannya sekolah lebih banyak bersinggungan dengan menyelesaikan masalah dari orang tua. Karena mohon maaf “sumber masalahnya ada di orang tua”. Kita sebagai orang tua harus banyak merefleksi diri ketika anak kita melakukan A, B, C…. siapa yang mengajari mereka? Iya pasti orang tua nya yang mengajari anak-anak nya (disadari atau tidak) kitalah orang tuanya.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *

I am an educator and recently I am working at Budi Luhur School teaching at Senior High School and Developing School Management. I also involving at Elementary Level as a principal.