Guru Menginspirasi

Teacher is the heart of the school

Blog

Niat Menolong

True Story….

Hari ini Jum’at, 25 Jan 2019, saya menuju masjid depan sekolah pukul 11.45 WIB. Ketika sampai di pelataran masjid saya melihat 6 siswa sedang berkerumun entah apa yang sedang mereka perbincangkan. Saya mendekat, namun mereka malah hendak pergi… lalu spontan saya bertanya: “mau kemana ini?” itu Mr mau beli betadine… tadi ada kakek yang jatuh (sambil menunjuk ke arah sang kakek), salah satu dari mereka menunjukkan uang 4.000 rupiah… dalam hitungan detik saya langsung mengijinkan mereka untuk pergi beli betadine… (walaupun dalam hati…sebentar lagi adzan) tapi saya ingin melihat bagaimana anak-anak ini merespon kejadian ini sampai akhir.

 

5 menit berlalu….tik tok tik tok… mereka belum kembali dari indomaret. “mereka sedang apa ya…” mungkin uang nya kurang, jadi sedang berdebat di dalam indomaret. Atau mereka sedang patungan uang supaya bisa beli betadine yang besar. Mungkin betadine yang kecil habis…

 

10 menit kemudian akhirnya mereka kembali menyebrang dari indomaret. Saya mencoba untuk tidak ikut campur…. “penasaran, apa langkah mereka selanjutnya” setelah sampai pelataran masjid: mereka mondar-mandir dan berunding lagi… saya tidak mendengar apa-apa karena posisi saya agak jauh di pintu namun saya masih bisa melihat dan memperhatikan mereka. Lalu terdengar suara “tissue” dan jari mereka menunjuk ke sekolah… Mereka kembali ingin keluar, namun sekarang mereka hanya mengutus satu orang untuk ke sekolah mengambil tissue.

2 menit… 3 menit… 4 menit…. Tik tok tik tok….. tiba-tiba teman mereka menyebrang kembali ke masjid dengan membawa tissue dan disambut gembira oleh teman-temannya.

 

Adzan sudah berkumandang, mereka masih mondar-mandir saja. Mencoba mendekati sang kakek, tapi tidak ngomong. Lewat lagi tapi gak ngomong… “jujur saya menahan ingin sekali menolong tapi saya ingin melihat usaha mereka” sampai adzan selesai mereka tidak ada yang berani ngomong kepada sang kakek bahwa mereka sebenarnya ingin menolong.

Karena mereka mondar-mandir ke tempat wudlu trus ke depan lagi, trus balik lagi ke samping sang kakek…. Bolak-balik… bolak-balik… bolak-balik.

Akhirnya saya ke belakang dan bilang kepada mereka: “bilang permisi ke kakeknya. Tapi tunggu sampai kakek selesai sholat sunnah”. Sang kakek terlihat sedang sholat di kursinya.

Saya kembali memperhatikan dari jauh, lalu mereka berenam berbarengan datang menuju sang kakek yang berusia sekitar 80 tahunan itu. Entah siapa yang berbicara duluan: “permisi kek… tadi kami lihat kakek jatuh, kami beli betadine buat kakek… lalu mereka mulai mengusap luka yang ada di kepala sang kakek, di dengkul, dan salah satu jarinya yang berdarah. “sejenak saya terharu” saya memperhatikan orang disekitarnya melihat kejadian itu tersenyum bahagia, terharu, bangga, terpana melihat… sekelompok anak SD mencoba menolong sang kakek yang baru saja terjatuh dan terluka.

Anak-anak SD ini adalah siswa Budi Luhur kelas 5 (Daffa, Rasya, Ramiro, Babam, Boby, Arka).

Mereka sudah mengaplikasikan Pilar-2 Cinta kasih dan Peduli.

 

Inilah pendidikan karakter yang sedang berproses, memang butuh waktu dan kesabaran ketika kita melihat anak-anak kita muncul inisiatif untuk melakukan kebaikan. Terkadang kita orang dewasa tidak bisa menebak apa yang anak-anak pikirkan, mungkin sebagian kita akan langsung memotong dan menyarankan anak-anak kita untuk begini dan begitu….

Kita sebagai orang dewasa hanya perlu memberi mendorongan sedikiiit saja… maka “kebaikan” akan terjadi.

Terkadang kita juga tidak perlu mengarahkan, biarkan otak mereka berfikir “what next?” “What should we do?”.

Mereka butuh waktu sekitar 25 menit untuk menolong sang kakek. Itu lah proses yang harus dijalani dan kita sebagai orang tua perlu memberikan mereka ruang dan kesempatan berfikir.

Jika anak mampu makan sendiri, biarkan anak makan sendiri.

Jika anak mampu mengikat tali sepatu sendiri, biarkan anak tersebut mengikat sendiri.

Jika anak mampu mengerjakan PR sendiri, biarkan anak mengerjakan sendiri…

Jika anak mampu membawa kotak makannya sendiri, biarkan anak membawa kotak makannya sendiri.

tapi terkadang kita tidak sabaran, anak mengerjakannya kelamaan, atau kita kasihan melihat anak kita sendiri, dll. Kita harus ingat anak kita jauh lebih muda dari kita jadi butuh waktu yang lebih lama mengerjakan sesuatunya. Pada saat mereka mengerjakan tugas mereka sendiri dan kita memberikan mereka kesempatan disitulah mereka belajar mandiri dan bertanggung jawab.

Semoga cerita ini bermanfaat untuk kita semua.

Salam Budi Luhur.

1 COMMENTS

  1. Really this is my boy?? Proud of him and all of that kids..thanks for teaching all of this kids about this Pillar 2..thanks Budi Luhur Elementary and Mr Andi..

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *

I am an educator and recently I am working at Budi Luhur School teaching at Senior High School and Developing School Management. I also involving at Elementary Level as a principal.